SIAPA ITU DIRI SAYA?
Nama saya Cicilia Rosalinda Ndoi, biasa dipanggil Ocha. Lahir di Jakarta, 3 Januari 2001. Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara, yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk dijadikan buah hati dari Orang Tua yang sangat saya banggakan. Ayah saya seorang Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan Ibu saya adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang setiap harinya bekerja untuk keluarga di rumah.
Ketika umur saya 6 tahun, saya mulai menduduki pendidikan di Taman Kanak-kanak Pelangi, yang tempatnya tidak jauh dari rumah saya. Begitu senang rasanya mulai bersekolah karena memiliki banyak teman. Setelah lulus TK, akhirnya saya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar Katolik Charitas, hingga banyak hal-hal yang bisa didapatkan. Mulai dari pembelajaran yang diajarkan selama 6 tahun dan perkembangan teman yang semakin luas. Saat kelas 4, saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler basket, awalnya saya ragu karena merasa tidak percaya diri dengan bentuk badan yang terlalu pendek dan takut jika tidak bisa bermain dengan selayaknya. Namun, dibalik itu semua perjalanan baru dimulai. Ketika menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama, saya masih melanjutkan pendidikan di SMP Katolik Charitas, walaupun beberapa teman banyak yang sudah saya kenal namun itu semua tidak membuat saya untuk berteman dengan itu saja, tetapi saya mengeksplor teman lebih banyak lagi, hingga suatu ketika pada saat saya melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler di SMP, saya memilih basket kembali. Mengapa? karena menurut saya basket itu mengasikkan dan sebagai salah satu cabang olahraga yang membuat saya senang untuk melakukannya.
Ketika menginjak tahun ketiga di SMP, saya mengikuti perlombaan Basket 3 x 3 yang diadakan oleh Kedinasan Menpora, dan kini saya dan tim menjadi juara 2 dalam perlombaan tersebut. Saya sangat gembira, dan hari itu menjadi hari yang tak akan pernah saya lupakan dalam hidup. Kejuaraan pada perlombaan tersebut membuat saya untuk bisa masuk ke SMA Negeri manapun pilihan saya, tanpa harus mendapatkan nilai terbaik atau yang biasa disebut nem untuk melanjutkan ke jenjang SMA Negeri.
Ditahun selanjutnya pada saat SMA, saya tetap mengikuti kegiatan ekstrakurikuler basket. Namun menurut saya potensi saya pada saat SMA berbeda jauh seperti di SMP, pertandingan yang begitu ketat untuk dilakukan di SMA, membuat saya kecewa karena susah sekali untuk meminta izin untuk pertandingan kepada Kepala Sekolah.
Tahun terakhir di SMA akhirnya saya memutuskan untuk tidak begitu aktif dalam dunia kegiatan ekstrakurikuler dikarenakan jadwal yang terlalu padat seperti Les, Try Out, dan yang lainnnya hingga UN mendatang, dan dari kesibukan itu hanya belajar yang saya dapatkan. Tetapi pada saat pengumuman bahwa saya masuk di Faktultas Vokasi Jurusan Hubungan Masyarakat Universitas Indonesia, semua itu terasa terbayarkan dan apa yang selama ini saya impikan terkabulkan oleh kuasa yang di atas. Dan sekarang semua itu harus selalu kita dukung oleh adanya kemampuan dan doa yang disertakan.